Kamis, 21 Januari 2010

Santika, 4 tahun hilang kontak



Warji, laki-laki tua berusia 54 tahun, tinggal di Dusun Jarong RT 04/02 Desa Mekar Pohaci Kec. Cilebar ini merasa gundah, resah bercampur marah tak terhingga dengan persoalan Santika (32) anaknya yang menjadi TKI di Arab Saudi. Sejak keberangkatannya delapan tahun yang lalu hingga saat ini belum ada khabar bagaimana keadaannya.
Segala upaya sebenarnya sudah dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang anaknya, baik ke pihak perekrut maupun ke orang pintar, namun upaya itu belum menemukan hasil yang memuaskan “saya sudah meminta pertanggungjawaban sponsor dan pihak PT, namun saya belum mendapatkan khabar anak saya” paparnya.
Akibat dari persoalan yang menimpanya tersebut, ia merasa tak berrgairah untuk melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, ditambah kondisinya yang renta persoalan itupun kerap membuatnya sakit-sakitan.
Berdasarkan keterangan yang didapat, santika direkrut oleh sponsor Emod yang beralamat di Dusun Cigobang Desa Tanjungjaya Kec. Tempuran, dan dibrangkatkan pada tanggal 6 Pebruari 2006 melalui PT Rahana Karindo Utama yang berkantor di bilangan Condet Jakarta Timur, dan dipekerjakan pada majikan bernama Abdul Rozak Al Bahet di Riyadh Arab Saudi. Terkait dengan persoalan yang menimpa anaknya tersebut, Warji berharap agar anaknya segera dipulangkan dengan segala hak-haknya.
Mensikapi kasus yang menimpa warji dan anaknya, Yadi Singa aktivis Camp Migrant menerima pengaduan tersebut berkomentar, bahwa ada hal yang menarik dan janggal dari kasus Santika Binti Warji.
Pertama masih sangat minimnya pengetahuan keluarga TKI tentang penanganan kasus mengakibatkan mereka lebih banyak mengadukan persoalan tersebut pada orang pintar atau dukun, dan sering saya temukan mereka bertaruh dengan dukun-dukun, padahal dukun-dukun itu diluar system.
Kedua, begitu gampangnya pihak PT Pengerah Tenaga Kerja untuk mengganti Identitas TKI, karena dalam konteks kasus santika, saya menemukan identitasnya diganti-ganti, pertama kali ia berangkat menggunakan nama Neneng, yang kedua menggunakan nama Mumun, padahal diproses melalui PT yang sama saat itu, yakni PT Sapta Saguna dan yang terakhir menggunakan nama Santika.
Ketiga, kami sudah meminta pertanggungjawaban kepada Pihak PT Rahana Karindo Utama, dan jawaban yang kami terima melalui email tanggal 19 Januari 2010, mereka mengatakan bahwa pihaknya melalui agen sedang mengupayakan penelusuran keberadaannya.

Minggu, 17 Januari 2010

Kamis, 14 Januari 2010

8 Tahun Tanpa Kabar

CILAMAYA WETAN, RAKA - Sudah delapan tahun, Amih binti Oying TKW yang bekerja di Arab Saudi asal Cigobang Desa Mekarpohaci, Kecamatan Cilebar, tidak ada kabar.

Pernah, suatu ketika ada kabar melalui surat yang dibawa oleh teman bekerjanya di Riyadh, Arab Saudi, namun setelah itu tidak kabar lagi. Baik melalui surat ataupun telepon. Hal tersebut dikatakan oleh saudara korban Hj Nengsih kepada aktifis Camp Migrant, Rabu (13/1), saat mengadukan hal itu.

Berbagai upaya, lanjut Nengsih, telah dilakukan untuk mengetahui kabar saudaranya tersebut di Arab Saudi. Berulang kali dia mengadukan permasalahan ini pada PT Sapta Saguna selaku perusahaan PJTKI yang memberangkatkan Amih, tapi tidak tanggapan serius dari perusahaan mengenai permasalahan yang dihadapinya. "Perusahan hanya bilang, sabar dan sabar. Nyatanya sampai sekarang sudah 8 tahun belum ada kabarnya juga," keluhnya.

Dilanjutkannya, Amih berangkat pada 11 Februari 2002. Kemarin, pihaknya sempat menelpon tempat bekerja Amih. Sempat ada yang mengangkat telponnya seorang laki-laki, tapi ketika akan ditanyakan mengenai kabar Amih, telpon tersebut langsung ditutup. "Kemarin saya coba nelpon ke majikan Amih di Arab Saudi. Saat mau tanya kebaradaan Amih, dia cuma bilang Sudan, Sudan. Setelah itu langsung ditutup," ungkapnya.

Nengsih melanjutkan, dia berharap, kejelasan nasib saudaranya tersebut di Riyadh, Arab Saudi. Dituturkannya pula, selama berada di Arab Saudi, Amih tidak pernah mengirimkan uang hasil kerjanya. "Setelah berangkat, dia tidak pernah memberikan kiriman. Surat juga dititipkan pada teman Amih. Saya berharap, kabar Amih bisa diketahui," terangnya.

Aktifis Camp Migrant Yadi Singa mengatakan, pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu keluarga Amih untuk mendapatkan kabar sesegera mungkin. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu keluarga Amih agar permasalahan ini bisa segera selesai. Kami akan melakukan koardinasi dengan pihak terkait. Baik dengan perusahaan ataupun pemerintah melalui instansi terkait," pungkasnya. (asy)

Korban Trafficking dari Cilamaya Mendapatkan Pembinaan
Cilamaya (KarIn) – Empat anak perempuan asal Cilamaya Karawang yang menjadi korban trafficking kini tengah mendapatkan pembinaan di Panti Sosial Bina Remaja, milik Direktorat Pelayanan Sosial Departemen Sosial di Bambu Apus Cipayung Jakarta Timur. Mereka adalah korban tindak pidana penempatan non prosedural yang dilakukan oleh sponsor-sponsor PPTKIS (Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta) abal-abal. Polisi telah menyelamatkan mereka melalui razia pada bulan September 2008 lalu.

Dua orang anak usia sekolah ini merupakan warga Cilamaya Kulon dan merupakan dampingan LSM Camp Migrant. Dua orang lainnya dari Kec. Cilamaya Kulon dan Kec. Cilamaya Wetan dampingan Badan Sosial Pemberdayaan Masyarakat. Mereka diantarkan Camp Migrant dan Badan Sosial Pemberdayaan Masyarakat Senin 4 Januari 2010, ke tempat pembinaan tersebut untuk dididik selama empat bulan, sesuai dengan bakat dan minat mereka. Pembinaan ini diharapkan membantu mereka dalam mengarungi masa depannya yang tentunya masih panjang sesuai umur mereka yang juga masih muda.

Menurut keterangan Abdul Matin dari Badan Sosial, sebenarnya ada 7 anak yang ditargetkan untuk dibina, namun yang bisa diberangkatkan hanyalah 4 orang. Hal ini dikarenakan masih minimnya pemahaman orang tua terhadap program pemerintah tersebut. 3 anak lainnya tidak diizinkan oleh orangtuanya.

“Padahal kami bermaksud baik, agar anak-anak tersebut mempunyai bekal keterampilan untuk kehidupannya kelak. Namun saya merasa cukup bahagia sudah mengantarkan mereka, bahkan kami juga mengajak orangtuanya untuk ikut ke panti tersebut, sehingga mereka betul-betul percaya dan tidak dijerumuskan seperti sebelumnya,” ujar Martin.

Martin dan tim pendamping keempat anak ini, berharap agar mereka mengikuti semua kegiatan dan program yang diselenggarakan di tempat pembinaan tersebut hingga tuntas. Karena itu, Ia juga berharap selanjutnya para orangtua keempat anak ini dapat memotivasi mereka untuk menjalani pembinaan ini dengan semangat. Mengingat tugas pendamping hanya sudah selesai pada tahap mengantarkan.

Kejadian ini semoga menjadi pelajaran bagi warga lainnya khususnya di Karawang, terutama yang mempunyai anak-anak dibawah usia kerja, agar lebih berhati-hati terhadap ulah sponsor-sponsor abal-abal yang biasanya memberikan tawaran menggiurkan namun tidak bertanggungjawab. Selain itu, menjadi kewajiban bagi pemerintah dan aparat terkait agar lebih ketat mengontrol hal ini. Sebagai catatan, Karawang merupakan salah satu daerah yang jumlah TKI/TKW-nya terbanyak di Jawa Barat ditengah lapangan kerja yang katanya melimpah ruah dengan kawasan industrinya, ironis.