Selasa, 30 November 2010

NURSYAHADAH

TKW Asal Ciparage 3 Tahun Hilang Kontak


KLARI, RAKA - Nursyahadah (19), tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Ciparage, Kecamatan Tempuran, yang bekerja di Kuwait sudah tidak ada kabar sejak keberangkatannya 2007 lalu.

Dia dilarang berkomunikasi dengan keluarga oleh majikannya. Bahkan gajinya pun sering sulit dikeluarkan. Hal tersebut dikatakan oleh kakak Nursyahadah, Wasih (25) pada RAKA, Kamis (18/11) kemarin, saat mengikuti pelatihan pengelolaan keuangan di Hotel Grand Pangestu.

Wasih menuturkan, terakhir kali Nursyahadah berkomunikasi tahun 2007 lalu, setelah itu tidak ada lagi komunikasi hingga saat ini. Tersiar kabar adiknya dilarang untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia. "Katanya dia tidak boleh menelpon ataupun ditelpon oleh keluarga. Majikannya kejam katanya, preman gitu. Saya tidak tahu kabarnya sekarang," paparnya.

Bahkan, lanjutnya, uang gaji adiknya pun sering tersendat diberikan. Persoalan tersebut sudah diadukannya ke perusahaan yang memberangkant Nursyahadah. Akan tetapi tidak ada tanggapan sampai sekarang. "Mau kirim uangpun sulit, pernah sekali kirim uang ke kampung, itupun melalui supir. Kalau sendiri tidak bisa, soalnya tidak boleh. Sedangkan kontraknya sebentar lagi habis, kalau tidak salah tahun ini juga. Sekarang katanya sudah pengen pulang-pulang saja. Kata temennya di sana, majikannya kejam," ujar Wasih yang juga TKW.

Ditemui di tempat yang sama, salah seorang TKW lainnya, Sanem (31) menuturkan, kejadian tidak menyenangkan lebih banyak didapat ketika bekerja di luar negeri, terutama dalam masalah ketenagakerjaan, dia sering dirugikan. "Daripada senangnya, lebih banyak dukanya. Perlindungan dari pemerintah juga minim. Kerja melebihi jam kerja, sering dibentak, kadang susah untuk pulang, suka dipersulit, walaupun sudah habis kontrak. Kalau digertak mau dilaporkan ke kedutaan baru diijinin. Kalau untuk kekerasan fisik, Alhamdulillah kita belum pernah," katanya diamini oleh TKW lainnya.

Walaupun banyak dukanya, akan tetapi tidak membuatnya kapok bekerja di luar negeri. Tuntutan ekonomi menjadi dasar utama bekerja di luar negeri. "Persoalannya ekonomi, walaupun banyak susahnya kita terpaksa balik lagi ke sana. Soalnya di sini sulit mencari pekerjaan. Hasil kerja di luar negeri untuk membiayai kehidupan di rumah, untuk orang tua, kalau ada sisanya dibuatkan rumah. Sedikit-sedikit dipakai buat beli tambak atau perahu. Lumayan membantu ekonomi orang tua untuk sehari-harinya," pungkasnya.(asy)

Tidak ada komentar: